



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Ketidakberhasilan yang dialami siswa dapat bersumber pada keadaan diri siswa sendiri, atau dapat pula bersumber pada faktor yang ada di luar dirinya. Yang pasti ialah bahwa mereka, sadar ataupun tidak, membutuhkan bimbingan orang lain dalam usaha mengatasi kesulitan yang dihadapinya agar tujuan belajar yang mereka lakukan tercapai secara lebih baik.
Observasi adalah alternatif cara yang dilakukan oleh kami untuk melakukan identifikasi terhadap anak yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lainnya, adapun harapan kami dengan melakukan observasi ini adalah, kami dapat mengetahui keanekaragaman sifat dan prilaku peserta dididk di SD, dapat mengidentifikasi anak yang terisolasi di kelasnya dan juga dapat mengetahui penyebab terjadinya anak didik dapat terisolasi. Selain itu kami berharap tidak hanya mengetahui penyebab anak berkelebihan tapi kami juga berharap dapat menciptakan solusi yang terbaik demi perubahan kearah yang lebih baik.
Ketika kami menginjakan kaki di SD N 5 Waringinsari, dilihat dari situasi dan konsidisinya sudah tercermin bagaimana tata kelakukan pembelajaran yang dilakukan di SD tersebut.tak lama setelah itu kamipun mewawancarai kepala sekolah dan wali kelas,sebelumnya, dalam penelitian yang kami lakukan untuk proses kemudahan dalam pengelolaan data kami mengunakan dua tekhnik, yaitu wawancara dan sosiometri. Wawancara dapat diguankan untuk menilai hasil dan proses belajar, kelebihan wawancara adalah bisa kontak langsung dengan siswa maupun guru sehingga dapat mengungkap jawaban secara mendalam sesuai dengan apa yang kita inginkan,yang kedua dengan menggunakan sosiometri, dengan ini kami akan lebih mudah dalam pengelolaan data dalam pengelompokan anak yang terisolasi.
Dari pihak sekolah sendiri ada berbagai macam alterntaif yang dilakukan untuk mengatasi anak yang terisolasi tersebut,diantanranya adalah dengan cara melakukan pendekatan secara personal kepada murid tersebut untuk menanggylangi permasalahannya supaya dapat terpecahkan,selain itu juga trik kepala sekolah selalu memberikan rapat tambahan masalah bimbingan kepada guru suapaya diaplikasikan dalam proses pembelajaran demi menghindari adanya anak yangg terisolasi.kemudian setelah itu adapun setelah kami mengidentifikasi dari kepala sekolah dan wali kelas beserta langsung ke lapangan dengan menggunakan tekhnik wawancara dan tekhnik non tes, kami dapat menyimpulakan solusi yang ditawarkan dari hasil survey lapangan adalah dengan menggunakan tutor sebaya untuk membantu aak yang terisolasi di kelasnya,karena hal itu sangat membantu proses pembelajaran anak tersebut juga dalam masalah pergaulan dengan temannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagi berikut :
1. Apa itu anak yang berkesulitan belajar dan kaitannya dengan terisolir dikelasnya?
2. Bagaimana cara mengetahui anak yang tersisolir dan penyebabnya ?
3. Bagaimana cara menanggulangi anak yang terisolir ?
4. Solusi apa yang ditawarkan oleh pihak sekolah dalam menanggulangi anak yang terisolir ?
1.3 Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas bertujuan :
1. Mengetahui anak yang berkesulitan belajar dan kaitannya dengan anak terisolir
2. Mengetahui penyebab anak berkesulitan belajar dan kaitannya dengan anak terisolir
3. Cara menanggulangi anak yang terisolir
4. Solusi dalam penanggulangan anak yang berkesulitan belajar dan terisolir di kelasnya
1.4 Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna untuk menambah kepustakaan dan pengetahuan tentang anak yang berkesulitan belajar.
Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Penulis, sebagai wahaan pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang anak berkesulitan belajar dan kaitannya dengan anak terisolir.
2. Pembaca, sebagai wahana informasi tentang anak berkebutuahan belajar dan kaitannya dengan anak terisolir.
1.5 Prosedur Makalah
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secrara jelas dan komperhensip, data teoritis dalam makalah ini dikumpulkan dengan menggunakan tekhnik studi pusatak, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relepan dengan tema makalah dan menggunakan tekhnik observasi. Data tersebut diolah dengan teknik analisis, isi, melalui kegiatan observasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identifikasi Masalah
Setelah melakukan observasi pada hari Senin, tanggal 18 Oktober 2010 ke SDN 5 Waringinsari mengenai anak yang berkesulitan belajar dan kaitannya dengan anak terisolir.
Nama : Ahmad Amsori
No. Induk : 0506011003
TTL : Langensari, 31 Januari 1999
Kelas : V
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama Orang Tua : Kuri
Pekerjaan Orang Tua : Petani
Kelainan :
Anak ini dikategorikan sebagai anak yang berkesulitan belajar.Faktor penyebabnya karena keluarga yang tidak mendukung dan lambat ketika menerima pelajaran, anak ini diprediksikan oleh pihak sekolah sebagai anak terisolir tapi pada realitanya ketika kami melakukan observasi dilihat dari berbagai faktor ternyata anak ini tidak diasingkan oleh teman – temannya, melainkan dia mengasingkan dirinya sendiri karena merasa bahwa dirinya merasa kurang dibandingkan dengan orang lain. Dan untuk penanggulangannya sendiri anak ini memerlukan motivasi belajar yang lebih dari orang – orang terdekat.
Data Siswa
Nama : Sugiwanto
No. Induk : 050601032
TTL` : Langensari, 05 Januari 1999
Kelas : V
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama Orang Tua : Makun
Pekerjaan Orang Tua : Petani
Kelainan : anak ini dikatogorikan sebagai anak berkesulitan belaja , faktor penyebabnya adalah minat untuk belajar yang kurang tertanam dalam dirinya, kemudian lingkungan keluarga yang tidak mendukung terhadap pentingnya pendidikan dalam dirinya,selain berkesulitan belajar anak ini juga termasuk anak yang terisolir di kelasnya dikarenakan anak ini nakal.
Nama : M. Isfa Oka
No. Induk : 060701010
TTL : Langensari, 25 Januari 2000
Kelas : V
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama Orang Tua : Hadi Prayitno
Pekerjaan Orang Tua : Petani
Anak ini dipercaya oleh gurunya untuk menjadi tutor sebaya,dimana ketika kegiatan proses belajar pembelajaran sedang berlangsung ada anak yang dikatakan berkesulitan belajar, maka Oka yang akan membantunya. Wali kelasnyapun tidak ragu ketika Oka diharuskan menjadi tutor sebaya dikarenakan memang Oka termasuk orang yang cerdas di kelasnya, selain itu juga Oka mampu menjadi tutor sebaya yang baik bagi rekannya yang mengalmi berkesulitan dalam belajar sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh wali kelasnya. Dengan adanya tutor sebaya anak yang berkesulitan belajar akan terbantu,sehingga anak tersebut dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
2.2 Diagnosa
Seorang anak dapat dikatakan normal apabila ia mampu melaksanakan tugas perkembangan sesuai dengan usianya. Salah satu tugas perkembangan anak di SD yang dikemukakan Gibson & Mitchell (1981) adalah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berkesinambungan dan mempertunjukan perasaan yang relatif terbuka.
Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengetahui kedudukan siswa melalui pemahaman guru kelas terlebih dahulu yang setiap hari berinteraksi langsung dengan mereka
Dari hasil wawancara tersebut ternyata terdapat seorang anak yang memiliki kesulitan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya, wali kelasnya juga berpendapat bahwa anak tersebut lemah dalam pelajaran.
2.3 Pragnosa
Melalui angket yang harus diisi oleh masing-masing siswa terlihat anak tersebut kesulitan dalam mengisi angket. Setelah mewawancari rekan-rekan sekelasnya dapat disimpulkan bahwa anak tersebut sulit berinterakasi karena keberadaanny tidak dirasakan ada oleh rekan-rekan yang lain. Pengaruh pendidikan keluarga juga dirasa sangat penting, karena melihat data otentik siswa tersebut orangtuanya lulus SD dan pekerjaannya pun petani. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa anak tersebut memiliki kesulitan belajar karena merasa kurangnya perhatian dari pihak keluarga maupun lingkungan sosial di sekolah, hal itu membuat dirinya tidak memiliki motivasi untuk belajar sehingga membuat anak tersebut semakin berkesulitan dalam belajar.
2.4 Langkah-Langkah Penanggulangan
Dalam menghadapi anak berkesulitan belajar dan anak bermasalah diperlukan adanya bimbingan. Bimbingan pada dasarnya merupakan upaya bantuanyang dilakukan untuk membantu individu dalam pencapaian perkembangan yang optimal. Bimbingan dapat dilakukan di sekolah sebagai lingkungan formal ataupun di keluarga sebagai lingkungan informal.
Tujuan dari bimbingan belajar adalah sebagai berikut :
a. Agar siswa bertanggungjawab menilai kemampuannya sendiri dan menggunakan pengetahuan mereka secara efektif bagi dirinya.
b. Agar siswa menjalani kehidupannnya secara efektif dan menyiapkan dasar kehidupan masadepannya
c. Agar semua potensi siswa berkembang secara optimal meliputi semua aspek pribadinya sebagai individu yang potensial.
Menurut skinner (1957) bimbingan bertujuan untuk menolong setiap individu dalam membuat pilihan dan menentukan sikap yang sesui dengan kemampuan, minat, dan kesempatan yang ada sejalan dengan nilai-nilai sosialnya.
• Bimbingan di lingkungan sekolah
Layanan bimbingan dasar di SD lebih ditekankan pada Bimbingan Pribadi. Dalam bimbingan pribadi lebih memfokuskan diri kepada upaya mengembangkan aspek pribadi murid, seperti memahami diri, memahami lingkngan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, bimbingan menjadi pribadi mandiri.
Beberapa contoh materi bimbingan pribadi di SD, yaitu :
a. Motivasi belajar
b. Kemampuan memecahkan masalah
c. Self esteem
d. Membuat program sehari-hari
e. Cara mengembangkan minat dan bakat
f. Keterampilan berkomunikasi
g. Keterampilan pengambilan keputusan
h. Keaktifan dalam hubungan antar pribadi
i. Cara belajar yang efektif
j. dsb.
Dalam pengaplikasian bimbingan di SD khususnya SDN 5 Waringinsari terdapat layanan penempatan dalam belajar di kelas seperti yang di lakukan pak Toto ( Wali kelas 5 ) untuk penanggulangan anak yang berkesulitan dan baermasalah dalam belajar yakni dengan Tutor sebaya
Tutor Sebaya.
Tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Pemilihan tutor sebaya di lakukan dengan kriteria sebagai berikut :
a. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya.
b. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan.
c. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
d. Tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Siswa yang ditunjuk sebagai tutor ditugaskan membantu siswa yang mendapat program perbaikan, sehingga tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan dan pemberian reward dalam pentutoran sebaya. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan, tutor seaya dilakukan karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya. Tutor sebaya ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam komunikasi di lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh dalam pemenuhan akan kebutuhan identitas diri. Kebutuhan identitas diri meliputi rasa ingin memiliki sesuatu, ingin berbeda, ingin dikenal, dan ingin merasakan kehadirannya dirasakan.
• Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang berpengaruh terhadap perilaku dalam perkembangan anak. Untuk itu dalam lingkungan rumah harus diciptakan kondisi yang kondusif bagi anak, yaitu suatu suasana yang demokratis yang terbuka, saling menyayangi, dan saling memercayai. Komunikasi dua arah antara orang tua dan anak sangat penting dibangun bagi perkembangan anak.
Dengan landasan inilah anak akan berkembang menjadi pribadi yang harmonis, yaitu anak lebih peka terhadap kebutuhan dan tuntutan lingkungan, dan lebih sadar akan tujuan hidupnya, sehingga menjadi lebih termotivasi dan lebih yakin dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Pembelajaran yang sukses akan tercapai jika setiap siswanya memiliki motivasi.Motivasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh dan dibentuk oleh lingkungan, serta merupakan landasan esensial yang mendorong manusia untuk tumbuh, berkembang, dan maju dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Fungsi – fungsi dasar seperti kehidupan nalar (rasio), kehidupan perasaan, keterampilan psikomotorik maupun intuisinya, yaitu suatu kondisi kesadaran yang dilandasi ketidaksadarannya. Penyatuan fungsi- fungsi tersebut akan menumbuhkan kemampuan kreatif anak untuk menempuh hidup dengan kemampuan motivasi yang terarah.
Suatu lingkungan keluarga baru dapat dikatakan berusaha memenuhi tuntutan motivasi belajar, apabila keluarga tersebut dapat mengadakan lingkungan yang kaya stimulasi mental dan intelektual, dengan mengusahakan suatu suasana dan sarana belajar yang memberikan kesempatan kepada anak secara spontan dapat menyatakan dan memerhatikan diri terhadap berbagai kejadian di dalam lingkungannya. ( Conny Semiawan)
Bertolak belakang dengan kenyataan keluarga yang dialami oleh Ansori, dengan kesibukan orang tua dan latar belakang pendidikan yang kurang, maka dari itu guru berinisitaif untuk memintasalah satu keluarganya untuk menciptakan suasana yang yang memenuhi tuntutan motivasi belajar, tentunya dengan guru sebagai sebagai instruktur.
Memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai sebuah keluarga yang memenuhi standr motivasi belajar, karena memerlukan bimbingan secara kontinyu antara guru dan anggota keluarga sedangkan waktu yang tersedia untuk pertemuan anatara guru dan pihak keluarga sedikit. Namun tidak menutup kemungkinan bimbingan yang dilakukan secara kontinyu akan berhasil.
2.5 Evaluasi dan Tindak Lanjut
Evaluasi sangat menentukan dalam keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu, kita sebagai guru-calon guru harus dapat menyusun soal sedemikian rupa sehingga soal tersebut dapat dikerjakan oleh siswa sesuai dengan kemampuannya.
Kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran” adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya.
Teknik tes bukan satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan berbagai cara, seperti :
1. Skala
2. Angket
3. Wawancara
4. Observasi
Dalam mengetahui perkembangan anak, kelompok kami menggunakan salah satu teknik nontes yaitu angket. Angket juga digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilaian (evaluator) berhadapan secara langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga.
Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
2. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah
3. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan responden
4. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
5. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak ingungkan dan mengakibatkan salah penafsiran.
6. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis.
7. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang dari pertanyaan.
8. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak akan objektif lagi.
9. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya
Melalui bantuan angket yang diisi siswa, dapat mengetahui hubungan sosial siswa. Berikut gambaran hubungan sosial siswa yang digambarkan dalam bentuk sosiometri.
Sosiometri merupakan salah satu cara untuk mengetahui kemampusan siswa dalam menyesuaikan dirinya, terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya. Hasil sosiometri atau diagram hasil pilihan tersebut dinamakan sosiogram.
Berikut adalah hasil sosiogram di kelas 5 SD N Waringinsari Banjar :
Setelah dianalisis, alur hubungan dari 18 orang siswa tampak dalam diagram tersebut. Kita dapat mengetahui bagaimana hubungan antarsiswa di kelas tersebut secar keseluruhan sehingga dapat diketahui kadar hubungan sosial di antara mereka. Kita pun dapat mengetahui kedudukan setiap siswa dalam hubungan sosialnya sehingga dapat ditentukan siswa yang disenangi yaitu Diva dan Lulu dan kurang disenangi adalah Sugiwanto.
Ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhi kemampuan siswa dalam melakukan hubungan sosial yang membuatnya mampu melakukan hubungan sosial dengan kawan-kawannya sehingga ia disenangi oleh sebagian besar temannya, namun kami disini lebih menganalisis siswa yang terisolir, dan pada umumnya ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
- Tempat tinggal yang berada di daerah terpencil sehingga kurangnya minat untuk bersekolah
- Status sosial orang tuanya yang bermata pencaharian sebagai petani sehingga kurangnya perhatian dan kepedulian dalam aspek mendidik anak
- Hobi dan kesenangannya yaitu main bola sehingga siswa tersebut lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain dibandingkan dengan belajar (tidak bisa membagi waktu)
- Minat terhadap mata pelajaran, dan siswa tersebut (Sugiwanto) cenderung tidak paham pada semua pelajaran karena siswa tersebut mengalami kesulitan belajar yaitu berkesulitan untuk membaca dengan lancar untuk seusiannya.
Dengan demikian Sugiwanto merupakan salah satu anak yang berkesulitan belajar / (Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar), sehingga berdampak pada perkembangan hubungan ineraksi sosialnya yaitu terisolir. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas.
BAB III
PENUTUP
1.1 Simpulan
Anak merupakan fase perkembangan yang memerlukan bantuan untuk mencapai perkembangannya yang optimal. Perkembangan yang tidak optimal menjadikan masalah bagi orang tua, siswa dan guru salah satu akibat dari ketidak optimalan dalam perkembangan adalah anak yang berkesulitan dalam belajar dan anak bermasalah. Perlu adanya solusi dari pihak guru, orang tua dan siswa itu sendiri. Solusi yang bisa dilakukan dan sedang di terapkan di sekolah dasar kelas 5 SDN 5 Waringinsari yakni dengan Tutor sebaya untuk lingkungan sekolah dan kerjasama dengan salah satu pihak keluarga.
Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian.
1.2 Saran
Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SD bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memiliki Guru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di samping mengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BK sehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BK di Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
AdeHerlambang. (2009). Identifikasi anak berkesulitan belajar [online] Tersedia : http:// www.haleuangtembang.blogspot.com/2 009/08/makalah-identifikasi-anak-berkesulitan.html .[15 Desember 2010]
Gumelar (2009). Perkembangan Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial. [online]. Tersedia : http://community.um.ac.id/showthread.php?98439-Perkembangan-Psikologi-Anak-Dalam-Kehidupan-Sosial. [1 Desember 2010]
Hidayat, dkk. (2006). Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: UPI Press
Ninityulianita. (2009). Manajemen dan pendukung sistem bimbingan di sekolah dasar [online]. Tersedia:http:// www.ninityulianita.wordpress.com. [24 september 2010]
Setiawati dan Ima. (2007). Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI Press
#ngrefresh setelah mengobservasi bersama bersama Sinta Dwi Utami, Ria Budiarti Suwardi, Siti Sofiah Inayati, dan Saya sendiri Dina Herawati :)
0 komentar :
Posting Komentar