AkuDanMereka



Dalam hidup, tak penting siapa yg menyukai atau membencimu, karena yg terpenting adalah Tuhan mencintaimu. Yakin, suatu saat pasti akan indah pada waktunya, jalani hidup yang penuh misteri ini, karena itu bukti Yang Maha Adil telah menyayangi umatnya dengan segala porsi ujian dan cobaan-Nya.
Apa lagi yang saya harus takutkan dan lagi-lagi hadapi kenyataan ini. Saya mempunyai keluarga yang selalu sayang, punya sahabat yang selalu peduli, punya teman yang selalu ngbantu saya. Saya bersyukur dengan keadaan seperti itu, sungguh nikmat dan bahagia saya bisa berada ditengah-tengah mereka, begitupun kehadiran mereka sangat berarti untuk hidup saya.

Penyemangat dan penasehatku, love my sist...:)

pendidikanPKnSD

TAKE HOME EXAM UAS SEMESTER GANJIL TAHUN 2010/2011
KONSEP DASAR Pkn


Disusun untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester 3 Mata Kuliah Konsep Dasar Pkn
Dosen : Drs. Nana Ganda, M.Pd





Oleh :
Dina Herawati (NIM 0903671)
No. Absen 37
Kelas 2C Reg





PROGRAM S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS TASIKMALAYA
2011
 Jawaban No. 1
a. Cara menuangkan kurikulum di dalam proses pembelajaran di kelas yang mengacu pada dunia ranah, maka guru harus memiliki keterampilan. Dalam kurikulum, pendidikan kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warganegara dengan negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara, agar menjadi warganegara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Sesuai dengan ketentuan di atas maka pendekatan yang digunakan guru dalam pengajaran Pkn adalah pendekatan pengembangan kemampuan anak. Melalui pengajaran Pkn diharapkan peserta didik dapat berkembang menjadi warganegara yang bermoral Pancasila dan dapat diandalkan oleh bangsa dan negara yang dapat diwujudkan dalam berperilaku sehari-hari sesuai dengan nilai dan moral Pancasila.
Pendekatan ini tetap memperhatikan pada perlunya peserta didik memperoleh dan memahami sejumlah pengethuan. Penuangan konsep kurikulum seperti ini didasarkan atas:
1. Taraf perkembangan peserta didik
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pada kelas/tingkat rendah pengembangan kurikulum lebih diarahkan pada kesesuaian dengan taraf perkembangan peserta didik sedangkan di kelas/tingkat yang lebih tinggi diarahkan pada kesesuaian dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Guru yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan adalah guru yang memahami bagaimana teori atau cara mengajar yang baik karena guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional. Berbeda dengan profesional dibidang lain, profesionalisme guru adalah menyebarluaskan kreativitas dan inovitas (semangat belajar) bagi siswa.

c. Apakah guru itu adalah pekerja profesi ?
Sebutan guru sebagai suatu profesi pekerja seolah menyetarakan guru dengan pekerja-pekerja kasar pabrik. Sehingga ada perasaan tabu jika guru akan melakukan demonstrasi atau protes terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan yang merugikan peserta didik maupun guru.
Guru disamping seorang pendidik juga pekerja yang mempunyai hak dan kewajiban. Sudah sewajarnya jika guru mealakukan tuntutan pemenuhan hak-hak yang harus diperoleh sebagai seorang pekerja sebagaimana pekerja-pekerja lain di dalam masyarakat modern. Bukanlah hal yang tabu guru yang ideal dan profesional memperjuangkan peningkatan kualitas hidupnya guna lebih mendorong pengabdiannya kepada peserta didik dan masyarakat. Profesionalisme guru merupakan tuntutan profesi yang harus dipenuhi oleh setiap guru
 Jawaban No. 2
Maksud strategi dalam usaha pembelajaran yang mencakup pengidentifikasian, penetapan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan yaitu apa yang harus dijadikan sasaran dari kegiatan belajar mengajar tersebut. Sasaran ini harus dirumuskan secara jelas dan konkrit sehingga mudah dipahami oleh peserta didik. Perubahan perilaku dan kepribadian yang kita inginkan terjadi se-telah siswa mengikuti suatu kegiatan belajar mengajar itu harus jelas, misal-nya dari tidak bisa membaca berubah menjadi dapat membaca. Suatu kegiatan belajar mengajar tanpa sasaran yang jelas, berarti kegiatan tersebut dilakukan tanpa arah atau tujuan yang pasti. Lebih jauh suatu usaha atau kegiatan yang tidak punya arah atau tujuan pasti, dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan tidak tercapainya hasil yang diharapkan. Sehingga secara umum ada tiga pokok dalam strategi mengajar yakni tahap permulaan (prainstruksional), tahap pengajaran (instruksional), dan tahap penilaian dan tindak lanjut.
Ketiga tahap yang telah dibahas di atas, merupakan satu rangkaian kegiatan yang terpadu, tidak terpisahkan satu sama lain. Guru dituntut untuk mampu dan dapat mengatur waktu dan kegiatan secara fleksibel, sehingga ketiga rangkaian tersebut diterima oleh siswa secara utuh. Di sinilah letak keterampilan profesional dari seorang guru dalam melaksanakan strategi mengajar. Kemampuan mengajar seperti dilukiskan dalam uraian di atas secara teoretis mudah dikuasai, namun dalam praktiknya tidak semudah seperti digambarkan. Hanya dengan latihan dan kebiasaan yang terencana, kemampuan itu dapat diperoleh.
 Jawaban No. 3
Konsep pendidikan dasar diorientasikan pada pendidikan nilai, maka pendidikan tersebut akan harus senantiasa berbasiskan nilai, di mana nilai tersebut sengaja ditujukan untuk mengembangkan aspek kepribadian dan karakter peserta didik. Penyelenggaraan pendidikan yang berangkat dan didasarkan pada nilai diyakini akan melahirkan para lulusan yang berkepribadian, berkarakter dan berwatak baik. Karena itu, tugas utama pendidikan dasar adalah membangun karakter anak didik yaitu bertujuan agar anak didik sejak dini tidak gagal menjadi sosok manusia.
Sehingga tugas guru di sekolah dalam upaya membekai peseta didik dengan pembentukan sikap, nilai, dan kepribadian yaitu tugas sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.
Tugas kemanusiaan merupakan salah satu tugas guru. Dan ini tidak bisa diabaikan, karena guru harus terlibat dengan kehidupan di masyarakat dengan interaksi sosial. Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan sosial.
Di bidang kemasyarakatan merupakan tugas guru yang tidak kalah pentingnya. Pada bidang ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila. Memang tidak dapat dipungkiri bila guru mendidik anak didik sama halnya guru mencedaskan bangsa Indonesia.
 Jawaban No. 4
Pendidikan kewarganegaraan adalah program pendidikan berdasarkan Nilai-nilai pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestatikan nilai luhur dan Moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk prilaku dalam kehidupan sehari-hari para peserta didik baik sebagai individu, sebagai calon guru/pendidik, anggota masyarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Hakikat Pendidikan kewarganegaraan adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukkan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD1945.
Secara umum tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah sebagaii berikut:
• Memberikan pengertian pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila yng benar dan sah
• Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri khas serta watak ke-Indonesian
Dengan kata lain PKn menuntut terwujudnya pengalaman belajar yang bersifat utuh memuat belajar kognitf, belajar nilai dan sikap, dan belajar prilaku. Sehingga peran paradigma baru dalam konsep dasar bidang studi Pkn bagi anak di sekolah Dasar dapat menjadikan suatu model kerangka berpikir bagi anak bangsa yang berpancasila.

 Jawaban No. 5
Upaya pembelajaran demokrasi bagi peserta didik dengan pola pembentukan masyarakat demokrasi sangatlah penting. Karena kita ketahui sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat perlu dikembangkan sebagai pusat pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, yang mampu member keteladanan,, membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran demokratis.
Dalam kerangka semua itu mata pelajaran PKn harus berfungsi sebagai wahana kurikuler pengembangan karakter warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab.
Peran PKn dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, melalui pemberian keteladanan, pembangunan kemauan, dan pengembangan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Melalui PKn sekolah perlu di kembangkan sebagai pusat pengembangan wawasan, sikap, dan keterampilan hidup dan berkehidupan yang demokratis untuk membangun kehidupan demokrasi.
Dari kedua konsep dasar tersebut dapat dikemukakan bahwa paradigma pendidikan demokrasi melalui PKn yang perlu dikembangkan dalam lingkungan sekolah adalah pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional atau bersifat jamak.
Peran calon guru/guru dalam proses belajar mengajar yang mengacu pada konsep demokrasi , nilai demokrasi, dan masyarakat demokrasi guna menunjang pola kehidupan peserta didik di radius lingkungan yaitu memberikan perhatian yang cermat dan usaha yang sungguh-sungguh pada pengembangan pengertian tentang hakikat dan karekteristik aneka ragam demokrasi. Sebagai komponen sistem pendidikan gurupun harus mampu menerima perbedaan, menghargai pendapat siswa tidak memaksakan kehendak, merasa paling tahu dan menciptakan suasana belajar yang demokratis. Peran guru bukan sebagai satu-satunya sumber belajar karena telah/makin banyak sumber belajar lain di sekitar kehidupan anak.
Dalam proses belajar mengajarpun didukung dengan tersedianya sumber belajar yang dapat mempasilitasi siswa untuk dapat memahami penerapan demokrasi sehingga mereka memiliki wawasan yang luas tentang ragam ide dan sistem demokrasi dalam berbagai konteks.
Guru dapat menciptakan stuasi sekolah dan kelas yang di kembangkan sebagai democratic laboratory atau lab demokrasi dengan lingkungan sekolah/kampus yang diperlakukan sebagai micro lingkungan kehidupan yang demokratis yang bersifat micro dan memperlakukan masyarakat luas sebagai open global classroom atau sebagai kelas yang terbuka.
Dengan cara itu akan memungkinkan siswa dapat belajar demokrasi dalam stuasi yang demokratis dan membangun kehidupan yang lebih demokratis

Situasi Sosial Sebagai Media Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Belajar-mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berinteraksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan belajar-mengajar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, sebagian atau secara keseluruhan.
Situasi sosial atau lingkungan yang ada di sekitar siswa merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pembelajaran yang berkualitas dan bermakna bagi siswa SD.
Agar penggunaan lingkungan ini lebih efektif perlu disesuaikan dengan kurikulum atau program pembelajaran yang ada. Dengan begitu, maka kita perlu mendapatkan kejelasan lebih dahulu tentang teknik pemanfaatan yang berkaitan dengan berbagai alternatif cara yang ditempuh untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran dan prosedur terkait dengan mekanisme yang harus dilakukan, sehingga lingkungan ini dapat berfungsi untuk memperkaya dan memperjelas bahan ajar yang dipelajarinya. Pembahasan tersebut penulis wujudkan dalam makalah yang berjudul “Situasi sosial sebagai media pembelajaran”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Perlukah pembelajaran dengan memanfaatkan situasi sosial sebagai media dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa?
2. Apa saja teknik pemanfaatan lingkungan ?
3. Bagaimana prosedur pemanfaatan lingkungan ?

1.3 Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan:
1. dapat memberikan manfaat bagi siswa untuk memanfaatkan situasi sosial sebagai media pembelajaran yang menyenangkan
2. untuk mengetahui dan mendeskripsikan dua cara atau teknik dalam pemanfaatan lingkungan
3. untuk mengetahui prosedur pemanfaatan lingkungan
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pemanfaatan Situasi Sosial Sebagai Sumber Belajar
Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat. Dalam praktek pengajaran penggunaan lingkungan sosial sebagai media dan sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat.
Guru dapat meningkatkan kecakapan dalam menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Di lain pihak guru dan siswa bisa mempelajari keadaan sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan atau menghadapkan lingkungan (nara sumber) itu ke dalam kelas yang actual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar dan mengajar. Bila kita melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran, maka hasilnya akan lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, lebih nyata, lebih factual, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Ada beberapa teknik atau cara bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber belajar. Teknik pemanfaatan lingkungan berkaitan dengan berbagai alternatif cara yang ditempuh untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran. Teknik-teknik tersebut akan memberikan alternatif cara mana yang paling tepat untuk dipilih sehingga potensi lingkungan yang ada di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya secara optimal.
Secara umum, jenis-jenis kegiatan pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran bisa dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan membawa kelas/siswa ke dalam lingkungan yang akan dipelajarinya, dan cara yang kedua dengan membawa lingkungan itu ke dalam kelas.










2.2 Teknik Pemanfaatan Lingkungan
2.1.1 Bawa Kelas/ Siswa ke dalam Lingkungan
Memanfaatkan lingkungan dengan membawa kelas/siswa ke dalam lingkungan adalah teknik yang tepat sebagai media pembelajaran. Misalnya dengan menggunakan kegiatan karyawisata (field trip), perkemahan (school camping), kerja pangalaman dan pengamatan.
A. Kegiatan karyawisata atau “field trip”
Dalam pengertian pendidikan karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah.
Objek studi itu tidak terbatas pada jarak, artinya bisa objek yang jauh dari sekolah/kota tempat di mana sekolah itu berada, misalnya mengunjungi museum geologi, kebun binatang, taman lalu lintas, dsb., namun bisa juga di tempat-tempat di sekitar sekolah, seperti halaman sekolah, kebun sekolah, organisasi kemasyarakatan di dekat sekolah, sawah, kolam ikan, dsb.
Perlu diperhatikan, sebelum melaksanakan karyawisata ini, tentu guru bersama-sama siswa perlu mempersiapkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan, apa yang akn dipelajari, dan bagaimana cara mempelajarinya. Terutama sekali untuk objek kunjungan yang jauh dari sekolah, perlu dipikirkan tentang naik kendaraan apa, berapa biayanya dan mungkin diperlukan pula panitia khusus yang mengurus kegiatan ini. Oleh karena itu kegiatan karyawisata ke objek yang jauh dari sekolah biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu supaya tidak terlalu mengganggu kegiatan pembelajaran, misalnya pada akhir semester atau akhir tahun ajaran.

B. Kegiatan Berkemah (school camping)
Merupakan agenda kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh institusi-institusi pendidikan di Negara-negara maju. Kegiatan berkemah ini bisa dimanfaatkan bukan hanya untuk kegiatan rekreasi semata tetapi lebih dari itu untuk memperkenalkan dan mempelajari lingkungan yang ada di sekitarnya.
Siswa akan merasa senang apabila diajak untuk berkemah dan mereka dapat lebih menghayati keadaan alam yang sebenarnya seperti suhu udara, iklim, suasana, pegunungan, dsb. Siswa bisa juga mengenal masyarakat di mana kegiatan itu dilaksanakan. Kegiatan berkemah di alam terbuka, sangat cocok untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan dasar-dasar pengetahuan kealaman. Siswa bisa diberi tugas atau kegiatan yang menarik selama berkemah. Tentu saja perlu dipikirkan agar waktunya cukup dan terjamin keamanannya.

C. Kegiatan pengamatan atau survey
Yaitu mengunjungi objek tertentu yang relevan dengan tujuan belajar, misalnya untuk mengenal cara membuat satu jenis makanan kecil/ringan tang sering dimakan siswa. Kegiatan belajar yang bisa dilakukan oleh siswa, di antaranya siswa diminta untuk bertanya kepada pembuat makanan tersebut atau siswa diminta melakukan pengamatan tentang cara membuat makanan ringan tersebut.

D. Kerja Pengalaman
Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya siswa SPG diterjunkan ke sekolah dasar untuk melatih kemampuan sebagai guru di sekolah. Siswa SMEA dikirimkan ke perusahaan untuk mempelajari dan mempraktekkan pembukuan, akuntansi dan lain-lain. Siswa STM diterjunkan ke pabrik-pabrik untuk melatih kemahirannya dalam bidang-bidang tertentu sesuai dengan keahlian yang dipelajarinya. Dengan demikian praktek lapangan berkenaan dengan keterampilan tertentu sehingga lebih tepat untuk sekolah-sekolah kejuruan.
Adapun proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat. Cara ini dilakukan apabila sekolah (guru dan siswa secara bersama-sama melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan kegiatan lain yang diperlukan). Proyek pelayanan pada masyarakat mengandung manfaat yang baik bagi para siswa maupun bagi masyarakat setempat. Bagi siswa merupakan penerapan atau mencoba melakukan kegiatan sehubungan dengan kecakapan belajarnya dalam bidang tertentu sedangkan bagi masyarakat dirasakan manfaatnya sebab secara langsung turut memperbaiki keadaan yang menjadi garapan masyarakat itu sendiri. Misalnya para siswa membantu memberikan pelayanan posyandu, perbaikan jembatan, jalan-jalan, kebersihan lingkungan, penyuluhan KB, dan lain-lain.

2.1.2 Bawa Lingkungan ke dalam Kelas/siswa
Cara lain untuk menjadikan lingkungan sebagai media pembelajaran bagi siswa SD yaitu dengan membawa lingkungan ke sekolah/kelas. Misalnya kita dapat mengundang salah seorang dokter Puskesmas untuk berbicara soal kesehatan atau cara-cara pencegahan suatu penyakit kepada siswa di dalam kelas. Juga bisa mengundang bapak polisi misalnya untuk memberi penjelasan tentang cara berlalu lintas yang baik. Dokter puskesmas dan polisi tersebut merupakan manusia sumber (resource person) yang secara langsung berbicara di depan siswa-siswa mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan bidang tugasnya masing-masing.
Dengan kegiatan seperti ini, siswa dapat memperoleh informasi langsung dari sumber pertama, di samping itu tentu saja guru juga dapat memperoleh informasi tersebut yang berguna sebagai bahan penunjang untuk menambah wawasan pengetahuan. Nara sumber yang diundang harus relevan dengan kebutuhan belajar sehingga apa yang diberikan oleh nara sumber dapat memperkaya materi yang diberikan guru disekolah. Kriteria nara sumber dilihat dari keahliannya dalam suatu bidang tertentu yang diperlukan bukan jabatannya atau kedudukannya.
Sebelum mengundang nara sumber hendaknya dipersiapkan topik apa yang diminta untuk dibahas, siapa yang paling tepat untuk membahasnya (nara sumber), kapan waktunya, bagaimana menghubunginya, serta apa yang harus dilakukan siswa pada waktunya (kegiatan belajar).

Teknik atau cara yang dikemukakan diatas tidak hanya bermanfaat bagi proses belajar siswa namun lebih dari itu dapat digunakan sebagai media kerja sama sekolah dengan masyarakat. Hubungan sekolah dengan masyarakat sangat penting dalam pendidikan agar memperoleh masukan-masukan bagi program pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat serta memperkaya lingkungan belajar para siswa di sekolah.

2.3 Prosedur Pemanfaatan Lingkungan
Menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses pembelajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang saksama dari para guru. Tanpa perencanaan yang matang kegiatan belajar siswa bisa tak terkendali, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dan siswa tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan.
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yakni langkah perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan tindak lanjut sehingga pemanfaatan lingkungan tersebut dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dalam pengembangan program pembelajaran di sekolah.
1. Tahap perencanaan
Proses pembelajaran merupakan proses yang ditata dan diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan. Perencanaan pembelajaran dengan pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada saat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar dengan memanfaatkan potensi lingkungan yang ada. Langkah-langkah tersebut yaitu :
• Pertama, menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa berkaitan dengan penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran.
• Kedua, menentukan objek lingkungan yang akan dipelajari atau dikunjungi.
• Ketiga, merumuskan cara belajar atau bentuk-bentuk kegiatan yang harus dilakukan siswa selama mempelajari media pembelajaran lingkungan,
• Keempat, menyiapkan hal-hal yang sifatnya teknis.
2. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk menerapkan apa yang telah direncanakan. Pada langkah ini segala sesuatu yang telah dirancang dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran dilaksanakn sesuai dengan tujuan yang telah dipersiapakan.
3. Tahap Penialaian
Penilaian merupakan upaya untuk menentukan sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran melalui pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran itu tercapai dengan baik, efektif, dan efisien.
4. Tindak lanjut
Guru dapat meminta kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan belajar tersebut, di samping menyimpulkan materi yang diperoleh dan dihubungkan dengn bahan pengajaran bidang studinya. Di lain pihak guru juga memberikan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil-hasil yang dicapainya.
Tugas lanjutan dari kegiatan belajar tersebut dapat diberikan sebagai pekerjaan rumah, misalnya menyusun laporan yang lebih lengkap, membuat pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan hasil kunjungan, atau membuat karangan berkenaan dengan kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan belajarnya.

Memperhatikan uraian diatas dapat disimpulkan penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar banyak manfaatnya baik dari segi motivasi belajar, aktivitas belajar siswa, kekayaan informasi yang diperoleh siswa, hubungan sosial siswa, pengenalan lingkungan, serta sikap dan apresiasi para siswa terhadap kondisi sosial yang ada disekitarnya.
Proses pengajaran yang mengoptimalkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dikenal dengan pendekatan ekologis. Dalam upaya pembaharuan kurikulum melalui kurikulum muatan lokal pendekatan lingkungan (ekologis) mutlak diperlukan sehingga lingkungan disekitarnya betul-betul menjadi tujuan dan sumber belajar para siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran.























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Lingkungan sebagai media dan sumber belajar para siswa dapat dioptimalkan dalam proses pengajaran untuk memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa di sekolah. Prosedur belajar untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar ditempuh melalui beberapa cara antara lain survey, berkemah, karyawisata pendidikan, kerja pengalaman, manusia sumber (nara sumber).
Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berhasil dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan tindak lanjut. Dalam langkah-langkah tersebut, guru dan siswa terlibat aktif sehingga kegiatan pemanfaatan lingkungan tersebut menjadi tanggungjawabbersama.











DAFTAR PUSTAKA


Asep Herry, dkk (2007). Media Pembelajaran . Bandung ; UPI Press
Hendro Setiadi W . (2009) . Makalah Media Pembelajaran [online] Tersedia : http://hendrosetiadi.blogspot.com/2009/01/makalah-media-pembelajaran.html [14 november 2010]
Kamaludin . (2009). Atribut-inovasi dan tingkat [online] Tersedia : http://kamaluddin86.blogspot.com/2009/12/atribut--inovasi-dantingkat_29.html [20 oktober 2010]
Sitimulyani . (2010) . Makalah Pemanfaatan Lingkungan Sekitar [onlne] Tersedia : http://sitimulyani63.blogspot.com/2010/05/makalah-pemanfaatan-lingkungan-sekitar.html [15 november 2010]

instrumen Penelitian

A. Definisi Instrumen Penelitian
Kegiatan penelitian adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan atau memecahkan permasalahan yang dihadapi, dilakukan secara ilmiah, sistematis dan logis, dan menempuh langkah-langkah tertentu. Dalam penelitian di bidang apapun pada umumnya langkah-langkah itu mempunyai kesamaan, walaupun dalam beberapa hal sering terjadi pelaksanaanya dimodifikasi oleh peneliti yang bersangkutan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena social maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985)
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian disebut instrumen penelitian. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena-fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik fenomena disebut variabel penelitian.
Instrumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang pendekatan, khususnya yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen sendiri termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya.
Menyusun instrumen merupakan langkah penting dalam pola prosedur penelitian. Instrumen berfungsi sebagai alat bantu dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Karena Instrumen itu sendiri adalah alat pada waktu penelitian menggunakan sesuatu metode, maka untuk beberapa metode, kebetulan istilah bagi instrumennya memang sama dengan nama metodenya.
- Instrument untuk metode tes adalah tes atau soal tes
- Instrument untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner.
- Instrument untuk metode observasi adalah check-list.
- Instrument untuk metode dokumentasi adlah pedoman dokumentasi atau dpat juga check-list.
Menyusun instrumen pada dasarnya adalah menyusun alat evaluasi, karena mengevaluasi adalah memperoleh data tentang sesuatu yang diteliti, dan hasil yang diperoleh dapat diukur dengan menggunakan standar yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran.
Mendasar pada pengertian ini, maka apabila kita menyebut jenis metode dan alat atau instrument pengumpulan data, maka sama saja dengan menyebut alat evaluasi, atau setidak-tidaknya hampir seluruhnya sama. Secara garis besar, maka alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
1. Tes
2. Non-test (bukan tes)


1. Bentuk Instrumen Tes
Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes ini berisi soal-soal tes yang terdiri atas butir-butir soal. Setiap butir soal mewakili satu jenis variabel yang diukur.
Berdasarkan sasaran dan objek yang diteliti, terdapat beberapa macam tes dan alat ukur lain.
a. Tes kepribadian atau personality test, digunakan untuk mengungkap kepribadian seseorang yang menyangkut konsep pribadi, kreativitas, disiplin, kemampuan, bakat khusus, dan sebagainya. Yang diukur bisa self-concept, kreativitas, disiplin, kemampuan khusus, dan sebagainya.
b. Tes bakat atau aptitude test, tes ini digunakan untuk mengetahui bakat seseorang.
c. Inteligensi atau intelligence test, dilakukan untuk memperkirakan tingkat intelektual seseorang.
d. Tes sikap atau attitude test, digunakan untuk mengukur berbagai sikap orang dalam menghadapi suatu kondisi.
e. Tes minat atau measures of interest, ditujukan untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
f. Tes prestasi atau achievement test, digunakan untuk mengetahui pencapaian seseorang setelah ia mempelajari sesuatu.

Bentuk instrumen ini dapat dipergunakan salah satunya dalam mengevaluasi kemampuan hasil belajar siswa di sekolah dasar, tentu dengan memperhatikan aspek aspek mendasar seperti kemampuan dalam pengetahuan, sikap serta keterampilan yang dimiliki baik setelah menyelesaikan salah satu materi tertentu atau seluruh materi yang telah disampaikan.


2. Bentuk Instrumen Angket atau Kuesioner
Angket atau Kuesioner adalah metode pengumpulan data, instrumennya disebut sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang ia alami dan ketahuinya.
Dalam buku Arikunto, Kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut pandangan :
a. Dipandang dari cara menjawab, maka ada :
1. kuesioner terbuka, responden bebas menjawab dengan kalimatnya sendiri, bentuknya sama dengan kuesioner isian.
2. kuesioner tertutup, responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan, bentuknya sama dengan kuesioner pilihan ganda.
b. Dipandang dari jawaban yang diberikan, maka ada :
1. kuesioner langsung, responden menjawab pertanyaan seputar dirinya
2. kuesioner tidak langsung, responden menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan orang lain

c. Dipandang dari bentuknya, maka ada :
1. check list, yaitu daftar isian yang bersifat tertutup, responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom jawaban yang tersedia
2. skala bertingkat, jawaban responden dilengkapi dengan pernyataan bertingkat, biasanya menunjukkan skala sikap yang mencakup rentang dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju terhadap pernyataannya.
3. Kuesioner pulihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup.
4. Kuesioner isian, yang dimaksud adalah nsama kuesioner terbuka.

3. Bentuk Instrumen Interviu
Suatu bentuk dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer) dinamakan interviu. Instrumennya dinamakan pedoman wawancara atau inter view guide. Dalam pelaksanaannya, interviu dapat dilakukan secara bebas artinya pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada terwawancara tanpa harus membawa lembar pedomannya. Syarat interviu seperti ini adalah pewawancara harus tetap mengingat data yang harus terkumpul.
Kekuatan interviu terletak pada keterampilan seorang interviewer dalam melakukan tugasnya, ia harus membuat suasana yang tenang, nyaman, dan bersahabat agar sumber data dapat memberikan informasi yang jujur. Si interviewer harus dibuat terpancing untuk mengeluarkan informasi yang akurat tanpa merasa diminta secara paksa, ibaratnya informasi keluar seperti air mengalir dengan derasnya.

4. Bentuk Instrumen Observasi
Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara.

5. Bentuk Instrumen Skala Bertingkat atau Rating Scale
Bentuk instrumen dengan skala bertingkat lebih memudahkan peneliti untuk mengetahui pendapat responden lebih mendalam tentang variabel yang diteliti. Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Yang harus diperhatikan dalam pembuatan rating scale adalah kehati-hatian dalam membuat skala, agar pernyataan yang diskalakan mudah diinterpretasi dan responden dapat memberikan jawaban secara jujur.

6. Bentuk Instrumen Dokumentasi
Bentuk instrumen dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya, dan check-list yang memuat daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya. Perbedaan antara kedua bentuk instrumen ini terletak pada intensitas gejala yang diteliti. Pada pedoman dokumentasi, peneliti cukup menuliskan tanda centang dalam kolom gejala, sedangkan pada check-list, peneliti memberikan tally pada setiap pemunculan gejala.

कराक्तेरिस्तिक इनोवासी Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kita telah mengetahui bahwa inovasi termasuk bagian dari perubahan sosial, dan inovasi pendidikan merupakan bagian dari inovasi. Untuk itu tidak bisa diragukan lagi bahwasanya manusia tak akan terlepas dengan mengeksplorasi segala sumber daya yang dimilikinya. Dengan cara mencurahkan segala daya dan kemampuanya untuk selalu berinovasi menemukan sesuatu yang baru yang dapat membantu hidupnya menjadi lebih baik. Jika manusia tidak menggali segala kemampuanya maka ia akan tertinggal bahkan tergerus oleh zaman yang selalu berkembang.

Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena tanpa inovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain.

Mengingat bahwa penyelenggara pendidikan formal adalah suatu organisasi maka pola inovasi dalam organisasi yang lebih sesuai diterapkan dalam bidang pendidikan. Namun demikian organisasi pendidikan mempunyai karakteristik atau keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan organisasi yang lain di luar bidang pendidikan. Maka untuk memperjelas wawasan tentang inovasi pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan situasi setempat. Pembahasan tersebut penulis wujudkan dalam makalah yang berjudul “Karakteristik Inovasi pendidikan”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana karakteristik inovasi menurut Everett m. rogers?

2. Apa factor-faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi?

3. Bagaimana karakteristik inovasi menurut zaltman?

1.3 Tujuan Makalah

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :

1. Mengetahui karakteristik inovasi menurut Everett m. rogers.

2. Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi.

3. Mengetahui karakteristik inovasi menurut zaltman.

4. Dapat Menganalisa proses penerimaan inovasi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Komponen Dasar Pembaharuan (Inovasi)

Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Inovasi harus disebarluaskan. Salah satu bekal yang berguna bagi usaha memasyarakatkan inovasi adalah memahami karakteristik inovasi dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam proses penyebaran inovasi ke dalam satu sistem sosial.

Karakteristik inovasi menurut Rogers yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi adalah, keuntungan relatif , kompatibel, kompleksitas, triabilitas, observabilitas (dapat diamati).

Sedangkan atribut inovasi menurut Zaltman adalah, pembiayaan, balik modal, efisiensi, risiko dan ketidakpastian, mudah dikomunikasikan, kompatibilitas, kompleksitas, status ilmiah, kadar keaslian, dapat dilihat kemanfaatannya, dapat dilihat batas sebelumnya, keterlibatan, hubungan interpersonal, kepentingan umum atau pribadi, penyuluh inovasi.

2.1.1 Karakteristik Inovasi

A. Karakteristik inovasi menurut Everett M. Rogers

Rogers (1983) mengemukakan lima karakteristik inovasi:

1. Keunggulan relatif (relative advantage)

2. Kompatibilitas (compatibility)

3. Kerumitan (complexity)

4. Kemampuan diujicobakan (trialability)

5. Kemampuan untuk diamati (observability)

Keunggulan relatif adalah derajat di mana suatu inovasi dianggap lebih baik/ unggul daripada yang pernah ada. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi ekonomi, prestise sosial, kenyamanan, dan kepuasan. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.

Kompatibilitas adalah derajat di mana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).

Kerumitan adalah derajat di mana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.

Kemampuan untuk diujicobakan adalah derajat di mana suatu inovasi dapat diuji coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat diujicobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi harus mampu mengemukakan keunggulannya.

Kemampuan untuk diamati adalah derajat di mana hasil suatu inovasi dapat dilihat orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi.

Semakin besar keunggulan relatif, kesesuaian, kemampuan untuk diujicobakan, dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, semakin cepat inovasi dapat diadopsi.

Rogers (1983) mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi:

1. Struktur sosial (social structure)

2. Norma sistem (system norms)

3. Pemimpin opini (opinion leaders)

4. Agen peubah (change agent)


Struktur sosial adalah susunan suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Struktur ini memberikan keteraturan dan stabilitas perilaku setiap individu (unit) dalam suatu sistem sosial tertentu. Struktur sosial juga menunjukkan hubungan antaranggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dilihat pada struktur organisasi suatu perusahaan atau struktur sosial masyarakat suku tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers dan Kincaid di Korea menunjukkan bahwa adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik individu dan juga sistem sosial tempat individu tersebut berada.

Norma adalah suatu pola perilaku yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai panduan atau standar bagi semua anggota sistem sosial. Sistem norma juga dapat menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Hal ini sangat berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi dengan nilai atau kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidaksesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem sosial berpengaruh terhadap penerimaan suatu inovasi.


Pemimpin opini yaitu orang-orang tertentu yang mampu mempengaruhi sikap orang lain secara informal dalam suatu sistem sosial. Pemimpin opini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi penentang. Ia (mereka) berperan sebagai model di mana perilakunya (baik mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya. Jadi, pemimpin opini (opinion leaders) memainkan peran dalam proses keputusan inovasi.

Agen peubah merupakan bentuk lain dari pemimpin opini. Mereka sama-sama orang yang mampu mempengaruhi sikap orang lain untuk menerima suatu inovasi. Akan tetapi, agen peubah lebih bersifat formal yang ditugaskan oleh suatu agen tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Agen peubah adalah orang-orang profesional yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan agen peubah berperan besar terhadap diterima atau ditolaknya inovasi tertentu. Sebagai contoh, lemahnya pengetahuan tentang karakteristik struktur sosial, norma dan orang kunci dalam suatu sistem sosial (misal: suatu institusi pendidikan), memungkinkan ditolaknya suatu inovasi walaupun secara ilmiah inovasi tersebut terbukti lebih unggul dibandingkan dengan yang sedang berjalan saat itu.

B. Karakteristik Inovasi Menurut Zaltman

Zaltman, Duncan, dan Holbek mengemukakan bahwa cepat lambatnya penerimaan inovasi dipengaruhi oleh atribut itu sendiri. Suatu inovasi dapat merupakan kombinasi dari berbagai macam atribut. Kaitan anatara inovasi dengan cepat lambatnya proses penerimaan (adopsi) dapat dilihat secara singkat dari atribut inovasi yang dikemukakan zaltman. Yaitu

1. Pembiayaan (cost), cepat lambatnya penerimaan inovasi dipengaruhi oleh pembiayaan, baik pembiayaan pada awal penggunaan, maupun pembiayaan untuk pembinaan selanjutnya. Misalnya penggunaan modul di SD, ditinjau dari pengembangan pribadi anak, kemandirian dalam usaha (belajar) mempunyai nilai positif, tetapi karena pembiayaan mahal maka akhirnya tidak dapat disebarluaskan.

2. Balik modal (returns to investment), atribut ini hanya ada dalam inovasi di bidang perusahaan atau industri. Untuk bidang pendidikan, atribut ini sukar dipertimbangkan karena hasil pendidikan tidak dapat diketahui dengan nyata dalam waktu relative singkat.

3. Efisiensi, inovasi akan cepat diterima jika ternyata pelaksanaan daoat menghemat waktu dan terhindar dari berbagai masalah ( hambatan ).

4. Resiko ketidakpastian, inovasi akan cepat diterima jika mengandung resiko yang sekecil-kecilnya bagi penerima inovasi.

5. Mudah dikomunikasikan,

6. Kompatibilitas, cepat lambatnya penerimaan inovasi tergantung dari kesesuaiannnya dengan nilai-nilai (value) warga masyarakat.

7. Kompleksitas, inovasi yang mudah digunanakan oleh penerima akan cepat tersebar.

8. Status Ilmiah, cepat lambatnya penyebaran inovasi ditentukan oleh mudah tidaknya inovasi dimengerti oleh penerima.

9. Kadar keaslian, inovasi cepat diterima apabila dirasakan itu hal yang baru bagi penerima.

10. Dapat dilihat kemanfaatannya, cepat lambatnya penerimaan inovasi dipengaruhi oleh mudah atau tidaknya hasil inovasi untuk diamati.

11. Dapat dilihat batas sebelumnya, suatu inovasi akan cepat diterima apabila dapat dilihat batas sebelumnya.

12. Keterliabatan sasaran perubahan, inovasi dapat mudah diterima apabila penerima di ikutsertakan dalam setiap prosesnya.

13. Hubungan interpersonal, jika hubungan interpersonal bersifat baik, maka akan mempermudah penerimaan inovasi.

14. Kepentingan umum atau pribadi ( publicness vs privateness), inovasi yang bermanfaat untuk kepentingan umum akan lebih cepat diterima.

15. Penyuluhan inovasi (gatekeepers), untuk melancarkan dalam usaha mengenalkan suatu inovasi diperlukan sejumlah orang untuk menjadi penyuluh inovasi. Misalnya untuk pelaksanaan program KB diperlukan orang-orang yang bertugas mendatangi warga masyarakat untuk menjelaskan perlunya melaksanakan program KB.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dengan memahami berbagai macam atribut inovasi baik menurut Everett m. rogers maupun zaltman dapat mempengaruhi cepat lambatnya penerimaan inovasi. Dengan memahami atribut tersebut para pendidik dapat menganalisa inovasi pendidikan yang sedang disebarluaskan sehingga dapat memanfaatkan hasil analisisnya untuk mempercepat proses penerimaan inovasi.

DAFTAR PUSTAKA

Idris.(2008). Tinjauan teoritis [online]Tersedia http://www.pdk.go.id/balitbang/publikasi/Jurnal/no.html [20 oktober 2010]

Kamaludin . (2009). Atribut-inovasi dan tingkat [online] Tersedia : http://kamaluddin86.blogspot.com/2009/12/atribut--> [20 oktober 2010]

Setiawati dan Ima. (2007). Inovasi Pendidikan . Bandung: UPI Press